majalahteknikkonstruksi.com – Jakarta , 12 Februari 2026

Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia (IISIA) menyelenggarakan Musyawarah Nasional (MUNAS) IISIA 2026 pada Rabu, 11 Februari 2026, di The Ritz-Carlton Pacific Place, Jakarta. Dengan tema “Peluang Strategis Industri Baja Indonesia dalam Membangun Kedaulatan Ekosistem Industri Baja Nasional”, MUNAS IISIA 2026 menjadi forum strategis, untuk membahas arah kebijakan, tantangan global, serta langkah konkret dalam memperkuat ekosistem industri baja nasional.
Chairman IISIA, Dr. Akbar Djohan, dalam pidatonya menegaskan, bahwa industri saat ini tengah menghadapi tekanan besar. “Kita berada di tengah badai global. Over supply melanda pasar dunia, harga bahan baku berfluktuasi, dan tekanan produk impor terus mengancam pasar domestik,” ujarnya. Namun, di balik tantangan tersebut Indonesia memiliki potensi yang luar biasa. Proyek infrastruktur yang terus berjalan, hilirisasi yang semakin masif, serta pertumbuhan sektor manufaktur menjadi peluang emas yang harus dimanfaatkan. Tanpa fondasi yang kuat, peningkatan permintaan baja hanya akan menjadi pintu masuk bagi produk luar negeri.
Salah satu poin penting yang dibahas dalam MUNAS, adalah penguatan penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk seluruh produk baja, termasuk baja impor. IISIA menekankan, bahwa semua baja yang beredar di Indonesia, baik produksi lokal maupun impor, wajib memenuhi SNI sebagai jaminan keamanan, keselamatan, dan kualitas produk. Hal ini, krusial untuk melindungi konsumen, memastikan keandalan konstruksi infrastruktur, serta menciptakan persaingan yang adil dan sehat di pasar domestik. IISIA mendorong pemerintah untuk memperkuat pengawasan di perbatasan (border control) dan pascaperbatasan (post-border monitoring), guna memastikan tidak ada produk baja yang tidak memenuhi standar beredar di pasaran.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menko) Airlangga Hartarto menyatakan, bahwa industri besi dan baja merupakan tulang punggung perekonomian nasional. “Kita patut bangga, di tahun 2025 sektor industri logam kita mencatatkan prestasi yang impresif. Pertumbuhan PDB sektor ini menembus angka 15,71 persen di atas rata-rata manufaktur dan PDB nasional,” ucap Menko Airlangga Hartarto, saat menyampaikan sambutan melalui video dalam MUNAS ke-5 IISIA tersebut. “Pemerintah terus mendorong sinergi antara pelaku usaha, asosiasi, dan regulator untuk meningkatkan daya saing, memperkuat kapasitas produksi, serta mempercepat transformasi yang berkelanjutan,” ujarnya. Lonjakan permintaan domestik hingga 19,7 juta ton, dipicu oleh geliat sektor konstruksi dan target ambisius pembangunan 3 juta rumah. Namun, Menko Airlangga mengingatkan ancaman nyata datang dari luar perbatasan. “Kita harus waspada terhadap global oversupply baja, yang diperkirakan akan lebih atau terjadi peningkatan sebesar 2,5 miliar metrik ton di tahun 2026,” ungkapnya.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Dewan Pengawas IISIA, Silmy Karim mengatakan, masalah utama bukan terletak pada ketidakmampuan industri dalam negeri untuk berkompetisi secara teknis, melainkan praktik perdagangan yang tidak jujur dari pemain global. “Hampir 5 tahun saya menjadi Dirut Krakatau Steel, yang terjadi adalah ketidakseimbangan, level playing field, sehingga kita industri baja nasional itu dirugikan,” ujarnya. Lebih lanjut Silmy Karim mengatakan, taktik produsen luar yang merusak harga pasar melalui under invoicing, sirkumvensi (pengalihan kode HS) hingga pemberian tax rebate oleh negara asal. Apalagi, instrumen seperti Bea Masuk Anti Dumping (BMAD) dan minimum import price, seperti yang diterapkan India, bukanlah upaya menutup diri, melainkan langkah koreksi pasar. “Bukan perlindungan yang membuat kita dininabobokan tetapi fairness,” ungkapnya.
[] Ari.
