
*BASILIKA NUSANTARA IKN – Simbol Toleransi dan Kerukunan Umat Beragama di Indonesia*

Basilika Nusantara di Kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) Kalimantan Timur, tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah umat Katolik, tetapi juga menjadi simbol persaudaraan dan kerukunan umat beragama di IKN.
Pembangunan IKN tidak hanya berfokus pada infrastruktur dasar saja, hadirnya Basilika Nusantara akan menjadi penanda pembangunan spiritual dan nilai-nilai kebangsaan, yang meneguhkan semangat Bhineka Tunggal Ika. Basilika Nusantara di Ibu Kota Nusantara simbol persatuan Indonesia.
KSO WIKA Gedung-Brantas Abipraya sebagai pelaksana konstruksi proyek pembangunan Basilika Nusantara di IKN, Kalimantan Timur. Proyek monumental ini, mencakup pembangunan Basilika pertama di Indonesia, Plaza Kerukunan, menjadikan kawasan tersebut sebagai simbol toleransi dan kerukunan umat beragama di Indonesia.

Project Manager (PM) Doni Ardono Kusmanto (beserta Deputy Project Manager Dwi Handoko) dari KSO WIKA Gedung-Brantas Abipraya menjelaskan, bahwa skup pekerjaan Basilika yang merupakan paket pekerjaan Design and Build meliputi ; Pekerjaan Struktur dan Arsitektur, MEP, dan Interior melekat Bangunan Basilika dan Fasilitas Pendukungnya.
Urutan kerja, mulai dari pengembangan dan pendetailan perencanaan juga konstruksi itu sendiri, yang seluruhnya harus diselesaikan dalam waktu 12 bulan. Sistem pelaksanaan dibagi menjadi 3 Zona Konstruksi, yang dilaksanakan secara pararel yaitu Zona Bangunan Utama Basilika, Zona Wisma Uskup, dan Zona Plasa Kerukukunan G4-G5. “Dengan pekerjaan secara pararel, kami menyiapkan sumber daya alat, tenaga kerja, dan material, yang mencukupi 3 zona tersebut,” jelas PM Doni.
Dalam pelaksanaan pembangunan Basilika ini, tenaga kerja pada kondisi puncak mencapai 850 orang, serta melibatkan beberapa subkontraktor spesialis, diantaranya untuk facade atap, plafond, interior, mekanikal elektrikal khusus. Untuk mengkoordinasikan subkontraktor tersebut meliputi 3 hal, yakni teknis, produksi dan administrasi, yang semuanya harus berjalan sinkron dan beriringan . “Untuk mengendalikan produksi, tiap hari dilakukan rapat harian, kami menyebutnya sunset meeting,” imbuh PM Doni. Hal itu karena dilakukan tiap jam 5 sore, untuk mengevaluasi pekerjaan, kendala, dan rencana harian. Kemudian rapat mingguan, khusus untuk pembahasan hal teknis, administrasi, dan kendala spesifik yang tidak dapat diselesaikan pada rapat harian.
Perancangan arsitektur Gedung Basilika, direncanakan sebagai bangunan yang menampung umat beragama Katolik, juga sebagai wisata religi sesuai standar dan kebutuhan yang ditentukan oleh pihak kementerian dan lembaga lain di bawahnya. Konsep Basilika Nusantara di IKN, merupakan bagian dari perkembangan akar budaya dan norma kehidupan dalam berkegiatan dan beribadah, yang tujuannya yakni sebagai tempat ibadah umat Katolik di Kawasan Komplek IKN, dan sarana pembelajaran terkait Ilmu Agama dan Kebudayaan masyarakat Katolik. Disamping itu, menegaskan sikap dan beribadah umat Katolik modern, yang menginspirasi dan mengapresiasi toleransi dan pola hidup bermasyarakat dan kolaboratif. Bentuk massa bangunan Basilika, mengusung prinsip keterbukaan dan inklusi. Strategi penataan blok masa, diatur agar tetap membuka persil komplek bangunan bagi banyak pihak, dengan mempertimbangkan area – area yang membutuhkan privasi.
Taman doa dan Jalan Salib, sebagai zona semi publik yang dapat dikunjungi sebagai area wisata, bila sedang tidak berlangsung ibadah khusus. Tingkatan privasi Basilika, mencakup ; a). Lantai Ibadah (semi publik), terbuka untuk umum tetapi terbatas bila sedang ada Misa. b). Lantai Pengelola 1 (semi publik), terdapat fasilitas toko rohani, perpustakaan, museum yang bisa diakses publik. c). Lantai Pengelola 2 (private), area gedung karya pastoral paroki gereja. d). Lantai Pengelola 3 (private), area gedung karya pastoral keuskupan. Lahan pada bangunan Basilika tetap mempertahankan bentuk asli, dengan mengupayakan cut & fill yang tidak massif. Adapun area entrance, adalah respon atas titik-titik keterhubungan dari dan sekitar site. Fasad Bangunan Basilika yang unik, adalah struktur utama membentuk atap sekaligu facade bangunan, karena berbentuk segitiga. Elemen facade terinspirasi terasering. Prinsip tersebut, mengacu pada penggunaan area kisi-kisi berundak, yang terhubung secara bertahap. Pendekatan ini, menghasilkan serangkaian tingkat yang terbuka dan terhubung. Secara fungsional kisi-kisi ini, juga berfungsi sebagai bukaan cahaya sehingga menghemat energi…………[]HS.
